Pendahuluan sebagai bahasa pertamanya, kemudian mereka mempelajari bahasa standar

Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara yang
menggunakan bahasa nonstandar dalam situasi nonformal dan bahasa standar dalam
situasi formal. Bahasa nonstandar yang dimaksudkan seperti bahasa daerah oleh
kelompok sosial tertentu, dan bahasa Indonesia nonstandar yang dipengaruhi
dengan bahasa Jakarta. Dalam situasi ini, bukan merupakan sesuatu yang tidak
biasa bagi anak-anak Indonesia. Pada umumnya anak-anak
memperoleh bahasa nonstandar sebagai bahasa pertamanya, kemudian mereka mempelajari
bahasa standar di sekolah. Saat ini, banyak pula para orang tua yang
menginginkan anaknya dapat menguasai bahasa asing, terutama Inggris dan
Mandarin. Karena itu, tidak jarang pula anak-anak menguasai bahasa asing
tersebut sebagai bahasa pertama.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Bahkan dapat juga dikatakan bahasa
Indonesia menjadi bahasa kedua bagi sebagian besar anak di Indonesia. Mereka mulai
mempelajari Bahasa Indonesia secara formal ketika duduk di bangku sekolah
dasar. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah mengarahkan anak-anak untuk meningkatkan
kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara
lisan maupun tertulis, serta untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya
kesusastraan Indonesia.

Di sekolah, guru menghadapi peserta
didik dengan berbagai latar belakang social dan budaya. Tantangan guru tidak
hanya mengajarkan bahasa Indonesia untuk mengarahkan peningkatan kemampuan
berbahasa, tetapi juga membentuk sikap mereka terhadap bahasa Indonesia. Untuk
itu diperlukan strategi guru dalam mengajarkan bahasa Indonesia bukan hanya
sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan kognitif mereka, melainkan juga untuk
meningkatkan apresiasi mereka terhadap seni—dalam hal ini adalah kesusastraan.

Berdasarkan Kurikulum Berbasis
Kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, guru mempunyai keleluasaan
untuk menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi
lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didik. Namun, sejauh mana keleluasaan
guru mengatur bahan ajar kebahasaan ini?  Benarkah harus ada pemisahan yang jelas antara
pendidikan bahasa dan sastra di sekolah? Secara khusus, tulisan ini akan
menyoroti pengajaran bahasa dan sastra di sekolah dasar dan kaitannya dengan
strategi guru menghadapi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

 

Metode

Penelitian
ini, termasuk jenis penelitian pustaka (Library Research) dan
menggunakan data kualitatif. Data kualitatif dalam penelitian ini berbentuk
literatur, baik dari jurnal, buku, internet maupun sumber lainnya yang
mendukung. Sumber datanya terdiri dari dua, yakni data primer dan sekunder.
Data primer berkaitan dengan literatur yang sesuai dengan penelitian, sedangkan
data sekunder adalah sebagai data penunjang dari literatur. Pengumpulan data
dalam penelitian ini dilakukan melalui riset kepustakaan, yaitu dengan
mengumpulkan, mencatat, dan mengklarifikasi. Untuk mengumpulkan datanya
digunakan observasi literatur, yakni melakukan pengamatan langsung untuk
memperoleh data yang terkait. Kemudian selanjutnya, dilakukan editing,
yakni melakukan pemeriksaan data yang telah terkumpul, kemudian mengklarifikasi
kembali sesuai dengan data yang diperoleh. Untuk mempermudah dalam menganalisis
data, penulis menggunakan teknik deskriptif analisis. Teknik ini adalah
menganalisis dan menyimpulkan data dari pendapat yang dikonfirmasikan.
Selanjutnya, baru dianalisa makna yang terkandung dalam asumsi, gagasan, atau
statemen untuk mendapatkan pengertian dan kesimpulan. Setelah data itu
terkumpul, penulis menganalisa hasil data, sesuai dengan fokus masalah dalam
tulisan ini.

Hasil dan Diskusi

KBK dan KTSP

Sampai
saat ini, Indonesia masih menghadapi banyak masalah dalam bidang pendidikan.
Tilaar (1998) mengungkapkan bahwa paling tidak ada tujuh masalah pokok dalam
sistem pendidikan nasional, yaitu menurunnya akhlak dan moral peserta didik,
pemerataan kesempatan belajar, masih rendahnya efisiensi internal sistem
pendidikan, status kelembagaaan, manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan
pembangunan nasional, dan sumber daya yang belum profesional.

Dapat
dikatakan bahwa sampai saat ini mutu pendidikan di Indonesia memang tidak
mengalami peningkatan yang merata. Paling tidak, ada tiga faktor yang
menyebabkan hal ini. Yang pertama adalah kurangnya perhatian terhadap proses
dalam pendidikan; sebagian besar institusi pendidikan lebih mementingkan hasil
pendidikan. Yang kedua adalah sangat kuatnya peran institusi pemerintah dalam kebijakan
pendidikan, yang menyebabkan banyak sekolah kehilangan kemandirian, motivasi,
dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya. Yang ketiga adalah
kurangnya peran serta orang tua peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan.

Faktor-faktor
penyebab masalah pendidikan, seperti disebutkan di atas, sudah lama disadari
oleh Departemen Pendidikan Nasional. Untuk memperbaiki keadaan ini, pemerintah
menyusun kurikulum yang lebih menekankan kemampuan peserta didik dalam belajar,
yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Selain itu, pemerintah juga
melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari manajemen
peningkatan mutu berbasis pusat menjadi manajemen peningkatan mutu berbasis
sekolah.

Walaupun
kurikulum ini sudah dicanangkan pemerintah, sejumlah masalah masih tetap
bermunculan. Keterbacaan kurikulum ini merupakan kendala yang utama. Masih
banyak penyelenggara pendidikan yang masih kurang memahami hakikat kurikulum
ini. Selain itu, kewenangan guru untuk menjabarkan kurikulum ini sebagai acuan
dalam pembelajaran masih sangat terbatas. Untuk meningkatkan peran guru dalam
pelaksanaan kurikulum, pemerintah menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP).

Sering kali,
pengajaran sastra terabaikan karena ada sejumlah pelajaran lain yang dianggap
lebih penting. Padahal, pengajaran sastra sangat penting dalam perkembangan
manusia, bukan hanya penting sebagai sesuatu yang “terbaca” melainkan juga
sebagai sesuatu yang memotivasi kita untuk berbuat.

Pentingnya
memasukkan pengajaran sastra di sekolah karena sejumlah alasan sebagai berikut.
Karya sastra menjembatani hubungan realita dan fiksi, hal ini mendukung
kecenderungan manusia yang menyukai realita dan fiksi. Melalui karya sastra,
pembaca belajar dari pengalaman orang lain dalam menghadapi masalah dalam
kehidupan. Di dalam sastra terdapat nilai-nilai kehidupan yang tidak diberikan
secara preskriptif, tetapi dengan membebaskan pembaca mengambil manfaatnya dari
sudut pandang pembaca itu sendiri melalui interpretasi. Melalui karya sastra
pula peserta didik ditempatkan sebagai pusat dalam latar pendidikan bahasa,
eksplorasi sastra, dan perkembangan pengalaman personal. Keakraban dengan karya
sastra, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya memperkaya perbendaharaan
kata dan penguasaan ragam-ragam bahasa, yang mendukung kemampuan memaknai
sesuatu secara kritis dan kemampuan memproduksi narasi.

Di dalam KTSP dengan jelas diungkapkan
bahwa salah satu tujuan pengajaran bahasa Indonesia adalah agar peserta didik
secara kreatif menggunakan bahasa untuk berbagai tujuan. Kreativitas berbahasa
dapat dipakai pula untuk mengekspresikan diri. Dalam hal ini, peserta didik
bersinggungan dengan sastra.

Sudah seharusnya guru memperkenalkan
karya sastra sebagai suatu bentuk seni (yang erat kaitannya dengan kreativitas)
berbahasa. Pengajaran sastra ditekankan pada bagaimana mengapresiasikan karya,
bukan pada menghafal karya sastra. Dorongan guru kepada peserta didik untuk
bercerita, seperti diungkapkan pada bagian sebelumnya, sebaiknya juga dikaitkan
dengan pembelajaran sastra. Peserta didik perlu diperkenalkan pada fungsi
sastra sebagai alat mengekspresikan diri, baik dalam bentuk cerita, puisi, dan
drama.

Menurut Sumardi (2000), agar anak dapat
memperoleh kesenangan dan manfaat dalam membaca karya sastra itu, kunci utama
yang perlu dipikirkan dalam buku pelajaran adalah menyediakan karya sastra anak
yang unggul yang sesuai dengan minat dan kematangan jiwa anak. Untuk memilih
karya sastra anak yang unggul, diminati, dan sesuai dengan kematangan jiwa
anak, dapat digunakan acuan ilmu-ilmu yang relevan seperti ilmu sastra dan
psikologi perkembangan. Huck dkk. (1987) mengungkapkan bahwa ciri esensial
karya sastra anak adalah penggunaan pandangan anak dalam menghadirkan cerita
atau dunia imajiner. Karena itu pulalah, guru perlu benar memahami dunia ini.

 

Strategi Guru Bahasa Indonesia dalam
Menyikapi KTSP

Menurut Cunningsworth (1995) ada dua
dimensi konteks belajar bahasa, yaitu konteks bahasa dan konteks anak. Konteks
bahasa antara lain mensyaratkan bahasa yang dipelajari itu harus utuh, tidak
lepas-lepas, dan jelas ragamnya. Konteks anak antara lain mensyaratkan bahasa
yang dipelajari itu harus sesuai dengan lingkungan, kebutuhan bahasa,
kematangan jiwa, dan minat anak. Berdasarkan tulisan tersebut, pemilihan bahan
ajar sudah sepatutnya mempertimbangkan kedua konteks tersebut.

Keleluasaan guru untuk memilih apa yang
diajarkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia sebaiknya dilandasi oleh
pertimbangan mengenai apa yang diungkapkan sebelumnya di atas. Karena
pembelajaran bahasa berkaitan dengan pembelajaran budaya, maka sebaiknya guru
juga mempertimbangkan aspek-aspek budaya yang ada di Indonesia. Dalam hal ini,
kekuatan karya sastra dapat dimanfaatkan.

Yang menjadi pertanyaan adalah:
bagaimana mendorong anak untuk menyukai karya sastra dalam proses pemelajaran
bahasa? Wray dan Medwell (1991: 56-63) menyarankan sejumlah strategi untuk
mendorong anak berinteraksi dengan kesusastraan. Strategi
itu adalah pilihan (choice) yang
diberikan oleh guru kepada peserta didik, kesempatan (opportunity) untuk membaca, suasana (atmosphere) yang dibangun dalam menikmati karya sastra, contoh (model) yang dapat ditiru oleh peserta
didik dalam budaya membaca, dan berbagi (sharing)
informasi mengenai apa yang sudah dibaca. Strategi-strategi ini dapat
diterapkan oleh pengelola pendidikan sebagai langkah pelaksanaan KTSP ini
sebagai berikut.

Guru dapat memberi kesempatan peserta
didik untuk memilih bacaan yang disukainya. Mungkin, pada mulanya bacaan itu
bukanlah bacaan yang dinilai baik oleh guru. Namun, dengan memberi kebebasan
peserta didik untuk memilih dan menikmati bacaan pilihannya, guru dapat
memperkenalkan peran bacaan sebagai sarana untuk memperkaya pengetahuan.
Setelah itu, guru dapat meminta peserta didik untuk memilih bacaan yang temanya
sudah ditentukan oleh guru.

Suasana
menyenangkan perlu dibangun di sekolah. Suasana dapat dibedakan menjadi suasana
fisik dan suasana sosial. Suasana fisik berkaitan dengan penempatan buku yang
rapi dan menarik. Suasana sosial dapat dibangun di kelas dengan menciptakan
iklim persaingan sehat dalam membaca buku. Misalnya saja, anak-anak diminta
untuk membaca buku yang berhubungan dengan sastra sebanyak-banyak dalam waktu
tertentu, dan siapa yang paling banyak membaca akan mendapatkan hadiah.

Tidak
dapat dimungkiri bahwa peserta didik berasal dari latar belakang yang beragam.
Ada keluarga yang membiasakan anak untuk membaca, ada yang tidak. Guru dapat
menunjukkan antusiasmenya dalam kesempatan membaca. Antusiasme guru ini dapat
menjadi contoh yang baik bagi peserta didik. Guru juga dapat lebih dahulu
membicarakan buku favoritnya, dan menunjukkan bagaimana waktu membaca adalah
waktu yang sangat menyenangkan.

Melalui
karya sastra, anak juga dapat berbagi pengalaman dan perasaan. Menceritakan
pengalaman yang hampir mirip atau sama sekali berbeda berdasarkan buku yang
dibaca merupakan kegiatan yang seharusnya menambah minat peserta didik dalam
belajar berbahasa. Selain itu mendorong anak untuk menciptakan puisi sebagai
bentuk ekspresi pengalaman dan perasaan juga penting. Namun, perlu diingat
bahwa setiap anak mempunyai minat yang berbeda mengenai hal ini. Memaksa anak
untuk menciptakan suatu bentuk ekspresi bahasa bukanlah tindakan yang
bijaksana.

Simpulan

Berdasarkan
Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, guru
mempunyai keleluasaan untuk menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan
sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didik. Dalam
penerapannya di sekolah, pengajaran sastra sering kali terabaikan karena ada
sejumlah pelajaran lain yang dianggap lebih penting. Padahal, pengajaran sastra
sangat penting dalam perkembangan manusia, bukan hanya penting sebagai sesuatu
yang “terbaca” melainkan juga sebagai sesuatu yang memotivasi kita untuk
berbuat.

Karya sastra
menjembatani hubungan realita dan fiksi, hal ini mendukung kecenderungan
manusia yang menyukai realita dan fiksi. Melalui karya sastra, pembaca belajar
dari pengalaman orang lain dalam menghadapi masalah dalam kehidupan. Di dalam
sastra terdapat nilai-nilai kehidupan yang tidak diberikan secara preskriptif,
tetapi dengan membebaskan pembaca mengambil manfaatnya dari sudut pandang
pembaca itu sendiri melalui interpretasi. Melalui karya sastra pula peserta
didik ditempatkan sebagai pusat dalam latar pendidikan bahasa, eksplorasi
sastra, dan perkembangan pengalaman personal. Keakraban dengan karya sastra,
seperti yang telah diungkapkan sebelumnya memperkaya perbendaharaan kata dan
penguasaan ragam-ragam bahasa, yang mendukung kemampuan memaknai sesuatu secara
kritis dan kemampuan memproduksi narasi.

 

Daftar Pustaka

Kushartanti,
B. 2007. Artikel “Strategi Pembelajaran Bahasa dan  Sastra Indonesia di Sekolah Dasar”. Diakses
pada 11 Januari 2018 dari https://www.researchgate.net/publication/279275817

Alwasilah,
A. Chaedar. 2006. “Kurikulum Berbasis Sastra.” Makalah dalam Seminar Nasional Kondisi Bahasa Indonesia Masa Kini.

Tilaar,
HAR. 1998. Manajemen Pendidikan Nasional:
Kajian Pendidikan Masa Depan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyasa,
E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.