Tantangan mayoritas Muslim (Warburton & Aspinall, 2017). Fenomena diatas

Tantangan
menjadi seorang pemimpin sangatlah beragam. Terlebih lagi bila kamu adalah
seseorang yang memimpin sebuah negara dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di
dunia, yaitu Indonesia. Dimulai dari fenomena politik sektarian yang menjadi isu
yang sangat perlu di perhatikan hingga politisasi korupsi yang semakin
memperkeruh suasana perpolitikan di Indonesia. Hal-hal tesebut adalah isu-isu
yang sangat mempengaruhi dunia perpolitikan Indonesia selama tahun 2017 (Sulistyo, 2017).

Fenomena
sektarian menjadi sangat diperhatikan setelah isu tersebut diangkat selama
Pilgub DKI 2017. Hal ini disebabkan oleh adanya wacana politik yang dirancang
oleh elit politik tentang distribusi kekayaan yang tak adil, yaitu dengan
memunculkan bahwa pihak kaya dimiliki oleh etnis China dan minoritas Kristen,
sementara pihak miskin adalah milik masyarakat mayoritas Muslim  (Warburton
& Aspinall, 2017).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 Fenomena diatas juga diikuti oleh isu
politisasi korupsi yang ikut mewarnai tahun 2017. Hal tersebut ditandai dengan
maraknya kegiatan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK. Operasi
yang dilaksanakan sebanyak 19 kali selama 2017 ini berhasil memecahkan operasi
yang dilakukan KPK di tahun sebelumnya (KPK, 2017).
Selain itu politisasi korupsi 2017 juga diwarnai dengan fenomena pembentukan
Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket KPK yang dianggap sebagai alat pelemah KPK
dan fenomena kasus korupsi e-KTP senilai lebi dari 6 triliun yang menyeret nama
mantan Ketua Umum Partai Golkar Setyo Novanto (Sulistyo, 2017). Maka dengan menggunakan teori/konsep
kepemimpinan strategis penulis akan menjelaskan model kepemimpinan strategis
yang seperti apa yang diperlukan untuk mencegah, merespon ataupun mengatasi
setiap tantangan-tantangan seperti diatas.

Berdasarkan
artikel yang ditulis oleh Ratanjee dan Wu bahwa Indonesia membutuhkan seorang
pemimpin yang otentik. Otentik itu sendiri di jelaskan sebagai seorang pemimpin
yang menyadari kekuatannya dan mampu mengkonversikannya menjadi faktor yang
menguntungkan peforma organisasi yang dijalankannya (Ratanjee & Wu, 2013). Maka, untuk dapat
menjelaskan karakteristik diatas teori/konsep kepemimpinan strategis yang akan
digunakan adalah self-awareness, critical
thinking, system thinking, cultural diversity, visioning sebagaimana
teori/konsep tersebut cukup relevan terkait definisi otentik serta
tantangan-tantangan atau isu-isu diatas

Teori
pertama yang akan dijelaskan adalah self-awareness.
Teori ini menjelaskan bahwa self-awareness
adalah pemahaman yang akurat dan objektif terhadap kekuatan dan kelemahan
pribadi (Grandstaff & Sorenson, 2008). Berdasarkan
definisi tersebut seorang pemimpin harus memiliki pemahaman yang baik tentang
dirinya, baik itu kelemahan maupun kekurangannya. Sehingga dengan mengetahui
dua hal tersebut seorang pemimpin diharapkan dapat mengambil keuntungan dari
kelebihan yang dimilikinya dan mengubahnya menjadi pendorong kemajuan
organisasi yang di pimpinnya. Adapun cara yang dapat digunakan untuk memiliki self-awareness yang baik adalah dengan
mengikuti langkah berikut:

1.      Unfreezing
Leadership Behavior

2.      Changing
Leadership Behavior

3.      Refreezing
Leadership Behavior

Jika
dijelaskan secara singkat langkah pertama bertujuan agar seorang pemimpin bisa
menyadari masalah-masalah yang terjadi dan berhasrat untuk merubahnya. Kemudian
pada langkah kedua maksudnya adalah seorang pemimpin yang berhasrat untuk
berubah diharapkan telah melakukan perubahan-perubahan tersebut dengan
melatihnya dan meminta feedback dari
mereka yang bekerja dengannya. Terakhir maksud dari langkah ketiga adalah semua
perubahan-perubahan yang telah dilakukan harus dijadikan sebuah kebiasan agar
kembali membeku untuk mencegah inkonsistensi.

            Teori kedua adalah critical thinking yang menjelaskan bahwa
lingkungan VUCA (Volatile, Uncertain,
Complex, Ambiguous) yang dihadapi pemimpin strategis menuntut para pemimpin
strategis untuk memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik (Grandstaff & Sorenson, 2008). Berdasarkan teori
tersebut para pemimpin juga diharapkan dapat memahami komponen-komponen utama
yang ada pada teori critical thinking,
seperti:

1.     
Clarify
concern

2.     
Evaluate
information

3.     
Consider
point of view

4.     
Identify
assumption

5.     
Make
sound inferences

6.     
Consider
implication

Selain
itu seorang pemimpin di dalam menghadapi tantangan-tantangan di dalam
kepemimpinanya jangan sampai berpikir hanya sebatas sebab-akibat dalam
mengintepresaikan tantangan-tantangan tersebut. Melainkan, harus terus
berhati-hati dan selalu berefleksi lagi atas apa yang sudah terjadi sehingga
dapat menghadapi tantangan-tantangan tersebut dengan bijak.

Teori
yang ketiga adalah system-thinking, teori
ini menjelaskan bahwa system-thinking melihat
sesuatu adalah hasil dari hubungan timbal balik bukan sebatas sesuatu saja,
selanjutnya pola perubahan dibandingkan gambaran sekilas yang statis (Grandstaff & Sorenson, 2008). Berikutnya adalah cultural
diversity yang menyatakan bahwa seorang pemimpin harus dapat memberikan
pelayanan dan kesempatan yang sama tanpa melihat suku, ras, dan agamanya (Grandstaff & Sorenson, 2008). Terakhir adalah visioning yang menjelaskan bahwa seorang
pemimpin harus memiliki pandangan ke depan terkait organisasi yang di pimpinnya
dan mampu menyampaikannya ke semua bawahannya (Grandstaff & Sorenson, 2008).

Setelah
mengetahui teori/konsep kepemimpinan strategis diatas. Selanjutnya akan
dijelaskan analisa mengenai model kepemimpinan strategis yang dibutuhkan
indonesia terutama dalam menghadapi tantangan-tantangan diatas.

Seperti
yang disampaikan diatas model kepemimpinan strategis di Indonesia haruslah
bersifat otentik. Otentik berarti seorang pemimpin yang menyadari kekuatannya
dan mampu mengkonversikannya menjadi faktor yang menguntungkan peforma
organisasi yang dijalankannya. Adapun untuk mencapainya, harus dimulai dengan
menerapkan teori self-awareness
diatas untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pribadi. Penting bagi seorang
pemipin untuk memiliki self-awareness
yang baik sebab melalui hal tersebut seorang pemimpin dapat merasakan
manfaatnya seperti semakin memahami komponen komponen yang dimiliki yang dapat
membantu kinerja individu dan memperjelas jalan pengembangan diri agar tetap
terarah. Terkait kasus diatas seperti fenomena sektarian yang marak pada
perpolitikan Indonesia adalah dampak dari lemahnya sifat kemawasan diri yang
dimiliki oleh seorang pemimpin. Mereka yang memiliki kekuasaan yang strategis
justru membiarkan fenomena tersebut di ekploitasi demi kepentingan kelompok
atau golongannya saja. Sebab, jika memiliki self-awareness
yang baik fenomena tersebut dapat di cegah penyebarannya. Keberagaman di
Indonesia yang seperti dua sisi koin ini dimana yang satu memperkaya
keberagaman dan yang satu menyebabkannya menjadi rawan akan gesekan kecil
seperti diabaikan oleh mereka yang memegang kekuasaan strategis hingga
membiarkan fenomena ini menyebar dan mengancam ke tahun selanjutnya. Untuk itu
perlu untuk para pemimpin startegis untuk melakukan tiga langkah menuju self-awareness yang baik diatas untuk
menjadikan perpolitikan Indonesia di tahun selanjutnya lebih baik sebagaimana
Indonesia akan menyambut Pilkada di 2018 dan Pemilu di 2019 yang sangat jelas
banyak dari para kaum yang haus akan kekuasaan akan kembali menggunakan isu
sektarian sebagai alat penunjang keberhasilannya untuk meraih kepentingan
kelompok ataupun golongannya saja. Selain itu hal serupa juga merupakan hasil
dari gagalnya mereka yang memegang kekuasaan startegis untuk menyadari apa yang
menjadi kelemahan mereka sekarang dan apa yang menjadi kekuatan mereka.
Sebagaimana korupsi bukanlah hal yang baru bagi negara Indonesia namun
keberlangsungannya terus merajalela bahkan hingga ke dalam kekuasaan tertinggi
di jajaran legislatif negara ini.

Selain
pentingnya untuk memiliki keahlian yang baik terkait kekuatan dan kelemahan
pribadi, pemimpin strategis perlu memilki pemikiran yang kritis atas hal-hal
krusial di dalam kepemimpinannya. Contoh kasus-kasus atau tantatangan diatas
adalah dampak dari gagalnya seorang pemimpin menilai suatu tantangan yang ada
di masyarakat. Sebagai contoh fenomena sektarian dan politisasi korupsi
merupakan dampak dari sikap pemimpin strategis yang memandang sebelah mata
pentingnya berpikir kritis sebab jika mereka cukup kritis terkait apa akar dari
masalahnya kedua fenomena tersebut pasti akan dapat ditekan dengan mudah
keberadaannya. Pertama, fenomena sektarian bukanlah hal baru di dunia
perpolitikan bahkan sudah ada di Indonesia sejak lama ketika Indonesia masih
dijajah oleh Belanda dimana Indonesia dibagi menjadi kelas-kelas tertentu yang
membedakan haknya di dunia perpolitikan. Hal ini membuktikan bahwa banyak
pemimpin-pemimpin yang gagal untuk mengidentifikasikan masalahnya, jika pun
berhasil banyak dari mereka juga mengabaikan perubahan yang terjadi dan menolak
untuk terus bersifat evaluatif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.
Sementara untuk fenomena politisasi korupsi yang merajalela di Indonesia pada
2017 juga menunjukkan bahwa pemimpin strategis gagal dalam menghadapi
perubahan-perubahan pola yang terjadi di dalam kasus-kasus korupsi yang terjadi
di Indonesia. Mereka gagal mengantisipasi munculnya aktor-aktor lain yang
bermain dan panggung permainan yang digunakan oleh para koruptor. Dapat dilihat
bahwa banyak dari pemimpin strategis di Indonesia tidak memperhatikan
komponen-komponen penting yang ada di dalam critical thinking yang wajib
dipahami dan diperhatikan setiap saat.

Selanjutnya
yang tak kalah penting adalah system
thinking, sebagaimana melalui teori ini seorang pemimpin diharapkan dapat
melihat suatu tantangan sebagai hasil dari hubungan timbal balik secara
keseluran. Namun, melihat terjadinya banyak fenomena sektarian dan politisasi
korupsi selama tahun 2017 menunjukan bahwa pemimpin strategis Indonesia tidak
memperhatikan masalah-masalah tersebut dengan baik melainkan hanya melihatnya
sebagai suatu masalah yang berdiri sendiri. Mereka mengabaikan bahwa fenomena
sektarian merupakan hasil dari para elit yang memiliki kekuasaan untuk
mendapatkan kekuasaan lebih dan fenomena politisasi korupsi adalah hasil dari gagalnya
pemimpin memperhatikan sistem yang membiarkan korupsi terjadi dimana-mana
bahkan muncul dari tempat-tempat di dalam pemerintahan yang dianggap terbebas
dari kejahatan yang merugikan banyak masyarakat demi kepentingan, kejayaan,
kemakmuran pribadinya, golongannya maupun kelompoknya sendiri. Seharusnya
seorang pemimpin strategis yang baik dapat berpikir sistematis dalam melihat
kedua masalah tersebut, melihatnya secara keseluruhan dan melihatnya sebagai
hasil dari hubungan timbal balik bukan sebatas melihatnya sebagai bagian-bagian
kecil yang harus diatasi sebagian bukan sebagai kesatuan yang yang harus
diselesaikan secara menyeluruh.

Teori
yang selanjutnya perlu diperhatikan oleh pemimpin strategis Indonesia adalah cultural diversity. Seperti yang
disebutkan diatas bahwa pemimpin strategis harus dapat memberikan pelayanan dan
hak yang sama tanpa memandang latar belakang mereka gagal diterapkan di dunia
perpolitikan Indonesia. Sebab dengan terjadinya isu-isu tersebut baik fenomena sektarian
dan politisasi korupsi menunjkan pemimpin strategis Indonesia gagal menerapkan
seperti yang disampaikan teori tersebut. Mereka gagal dalam memberikan
kesempatan yang sama bagi mereka yang dianggap sebagai minoritas untuk
mendapatkan haknya, suatu kejadian yang terus-menerus terjadi hingga sangat
terlihat ketika Pilgub DKI 2017 kemarin. Sementara politisasi korupsi
menunjukan bahwa begitu beragamnya bangsa Indonesia maka pendekatan untuk
menyelesaika kasus korupsi ini juga diperlukan pendekatan budaya. Tidak mungkin
lagi budaya lembek diterapkan untuk menyelasaikan kasus korupsi yang belum sama
sekali menunjukan titik akhir akan berakhirnya, begitu pula dengan fenomena
sektarian yang akan terus terjadi hingga 2019. Maka perlu untuk pemimpin
startegis Indonesia untuk memahami teori tersebut dan menerapkannya di dalam
kepemimpinanya untuk mencegah dan menjawab tantangan-tantangan diatas.

Terakhir
adalah visioning, yang dijelaskan
bahwa peran dari sebuah visi sangatlah krusial yang dapat menentukan
keberhasilan seorang pemimpin. Visi juga perlu disampaikan dengan baik ke dalam
setiap jajaran yang ada di bawah sebuah kepemimpinan agar dapat diwujudkan ke
dalam tindakan yang searah dengan target yang diinginkan. Namun, bukan berarti
dengan maraknya dua fenomena diatas selama 2017 di dalam perpolitikan Indonesia
menunjukkan bahwa visi yang dimiliki oleh pemimpin strategis Indonesia buruk
atau jelek, melainkan hal tersebut menunjukan bahwa proses penyampaian visi
tersebut yang gagal. Selain itu proses pembentukan dari visi tersebut yang
tidak merepresentasikan dunia perpolitikan Indonesia sekarang sebagaimana hal
tersebut terus berubah-ubah seiring perubahan jaman. Sebagi contoh fenomena
sektarian selama Pilgub 2017 kemaren menunjukan bahwa pemimpin startegis
Indonesia tidak memiliki visi yang baik sebagaimana mereka kewalahan atau tidak
memilki skenario yang baik untuk mengatasi masyarakat yang termakan oleh isu
tersebut. Sementara, politisasi korupsi menunjukan bahwa implementasi yang
buruk sebagaimana korupsi yang di Indonesia tidak ada habisnya merugikan dan
menghancurkan negara.

Maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa tantangan-tantangan yang terjadi di perpolitikan
Indonesia pada 2017 adalah karena para pemimpin startegis yang gagal dalam
menerapkan poin-poin penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin
strategis. Pemimpin yang otentik sebagaimana disebutkan diatas adalah yang
diperlukan Indonesia sekarang terutama dalam menghadapi perpolitikan Indonesia
yang terus berevolusi. Keotentikan pemimpin yang dapat dilihat dari bagaimana
seoran pemimpin menyadari kekuatannya dan mampu mengkonversikannya menjadi
faktor yang menguntungkan peforma organisasi yang dijalankannya. Ditunjang
dengan keahlian-keahlian yang wajib dimiliki, mulai dari self-awareness, critical thinking, system thinking, visioning dan
keahlian dalam cultural diversity sebagai
sarat keotentikan dirinya. Sehingga model kepemimpinan strategis yang baik bagi
tantangan-tantangan politik Indonesia adalah pemimpin yang otentik.